Selamat datang di -www.aplicationmarket.blogspot.com- bersama dg "ISLAMIC CENTER COMUNITY" selamat menikmati blog kami

NAPAK TILAS

Musala Makam Mbah Karimah
KEMBANG KUNING KELURAHAN PAKIS BNYAK MENYIMPAN SEJARAH MUSLIM

Selain dikenal sebagai kawasan kompleks pemakaman, Kampung Kembang Kuning di Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya juga dikenal sebagai tempat pertama Raden Rahmat alias Sunan Ampel saat masuk di kota ini.

Tetenger yang masih ada adalah masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Rahmat Kembang Kuning.

Dari catatan yang ada, masjid Rahmat yang sekarang beralamat di Jl Chairil Anwar nomor 2, dibangun sekitar pertengahan abad XV, era awal keruntuhan kerajaan Majapahit.

Masjid itu sebelumnya disebut sebagai langgar. Langgar tiban, karena proses pembangunannya tidak ada yang mengetahui. Tahu-tahu sudah ada langgar yang berbentuk segi empat dengan ukuran 12 meter x 12 meter dan berbentuk cungkup.

Lantainya berbentuk siti hinggil atau lebih tinggi dibanding tanah, sehingga nyaman untuk digunakan sebagai tempat bermunajat kepada Allah.

H Masyur (51), Wakil Ketua Yayasan Masjid Rahmat, mengungkapkan dalam legendanya, pendiri Masjid itu adalah Raden Rahmat, yaitu nama asli dari Sunan Ampel.

”Saat dia masuk ke wilayah Kembang Kuning ini, dia mendapatkan tanah ini. Kemudian bertemu dengan seorang warga asli Kembang Kuning, yaitu Ki Wiro Soerojo atau yang juga dikenal sebagai Ki Bang Kuning Atau Mbah Karimah,” jelas Mansyur.

Nama Karimah, karena Ki Wiro Soerojo memiliki seorang anak gadis yang bernama Siti Karimah.

Kemudian Karimah dipersunting Raden Rahmat alias Sunan Ampel sebagai istri dan kemudian dibawa ke daerah Ampel untuk meneruskan ajarannya.

Sementara nama Ki Bang Kuning, diambil dari nama daerah itu yang dulunya penuh dengan tanaman pohon pinang yang berwarna kuning.

Tapi, ada juga yang menyebut Kembang Kuning ini dari Kumbang Kuning, yang dulunya disebut-sebut banyak ditemukan di daerah ini.

Kondisi Kampung Kembang Kuning sendiri, saat ini, selain keberadaan masjid Rahmat adalah kampung tua yang padat penduduk. Tak hanya penduduk yang masih hidup dan menempati permukiman yang rapat, tapi juga makam-makam yang memiliki areal luas.

Bahkan banyak permukiman yang berdiri di atas atau berdampingan dengan makam.

Tak hanya makam untuk jenazah muslim, di kompleks pemakaman itu juga terdapat kompleks pemakaman Kristen, kompleks pemakaman tua untuk para prajurit Belanda di tahun revolusi dan kompleks pemakaman Tionghoa atau yang akrab disebut Bong.

Di malam hari, sejak tahun 1980-an, kompleks pemakaman Kembang Kuning, terutama di kompleks pemakaman Tionghoa, telah menjadi tempat gelandangan, PSK, dan waria. Mereka menempati bangunan-bangunan bong untuk tinggal maupun berpraktik prostitusi.

Tak hanya itu, banyak juga kaum muda-mudi yang memanfaatkan arena makam untuk cangkrukan atau sebagai tempat kencan. Karena keramaian itu, dimanfaatkan pula bagi para gelandangan untuk berjualan makanan dan minuman di area tersebut.
Namun, Mansyur mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir warga sekitar dan pemerintah setempat telah menerangi areal makam tersebut dan sering dirazia

Guest Book

Pengunjung

free counters